Headlines

Dedikasi 16 Tahun Sirna: Nasib Pilu Tenaga Medis Sumenep, Gaji Rp2 Juta Lebih Kini Hanya Tersisa Rp350 Ribu

81f89abb 67dc 40ac 90f1 82654077c791

SUMENEP – Pelita Jagat News. Sebuah ironi dan kepiluan mendalam menyelimuti hati para tenaga kesehatan di Kabupaten Sumenep. Pengabdian yang dibaktikan selama belasan tahun seolah tak memiliki nilai, seiring dengan perubahan status kepegawaian yang membuat nasib mereka kini terguncang.

Mereka yang dulunya dikenal sebagai tenaga kontrak dengan dedikasi tinggi kini harus menelan pil pahit setelah dialihkan statusnya menjadi PPPK paruh waktu. Perubahan ini bukan hanya soal nama, melainkan sebuah tamparan keras terhadap kesejahteraan mereka.

Dulu, dengan masa kerja yang telah mencapai 16 tahun, mereka bisa merasakan hasil jerih payah dengan penghasilan di atas Rp2.000.000 per bulan. Angka yang mungkin tidak seberapa bagi sebagian orang, namun cukup untuk menghidupi keluarga dan membiayai kebutuhan dasar.

Namun kini segalanya berubah drastis. Gaji yang sempat menopang hidup mereka anjlok tajam menjadi hanya Rp350.000 per bulan.

Angka tersebut jauh dari kata layak. Bagaimana mungkin seorang tenaga medis yang setiap hari bergelut dengan nyawa pasien, bekerja keras di puskesmas maupun rumah sakit, harus menerima nominal yang bahkan mungkin tidak cukup untuk biaya transportasi dan kebutuhan makan sehari-hari?

Rasa kecewa dan sakit hati tentu tak terelakkan. Bagi mereka, pemotongan gaji ini bukan sekadar persoalan ekonomi, melainkan juga menyangkut harga diri dan penghargaan atas pengabdian.

“Selama 16 tahun kami mengabdi, menghabiskan masa muda dan tenaga untuk melayani masyarakat Sumenep. Namun kini rasanya pengabdian itu tidak dihargai sama sekali,” keluh salah satu tenaga kesehatan yang enggan disebutkan namanya, dengan nada getir.

Mereka merasa seperti “dibuang” setelah dianggap tak lagi dibutuhkan dengan status lama. Harapan akan kesejahteraan yang semakin baik seiring bertambahnya masa kerja kini justru berubah menjadi mimpi buruk.

Nasib para tenaga medis Sumenep ini menjadi cermin pahit realitas birokrasi. Di satu sisi, negara membutuhkan tenaga mereka untuk menjaga kesehatan masyarakat, namun di sisi lain, kesejahteraan mereka justru terabaikan.

Kini, hanya ada satu harapan yang tersisa dari para pahlawan kesehatan tersebut: semoga ada kebijakan yang berpihak kepada mereka, sehingga pengabdian panjang selama hampir dua dekade tidak dianggap sebagai angin lalu.

(M/FK)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *