Headlines

Menapaki Jalan Panjang Ideologi dalam Teks, Komunitas Sastra Timur Jawa Gelar Diskusi “Politika Sastra”

WhatsApp Image 2026 10 04 at 11.28.22 AM

JEMBER – Pelita Jagat News. Dalam suasana hangat Kafe Latar Semeru, Jember, pada Sabtu malam pukul 19.00 WIB, ruang diskusi berubah menjadi arena pertukaran gagasan yang intens. Komunitas Sastra Timur Jawa (KSTJ) secara resmi meluncurkan program pertamanya, ” LèBUR #1″, sebuah forum diskusi buku, karya, dan teori, pada malam tersebut mengangkat tema menarik “Politika Sastra: Ideologi, Imaji, dan Politik Kebangsaan”. Acara tersebut tidak hanya sekadar pertemuan rutin, melainkan sebuah pernyataan sikap mengenai peran sastra dalam memotret dan mengkritisi realitas sosial-politik.

Sebelum diskusi inti dimulai, suasana khidmat tercipta saat Prof. Dr. Akhmad Taufiq, M.Pd., Guru Besar Kesastraan FKIP Universitas Jember, melakukan pemotongan tumpeng. Momen ini merupakan bentuk tasyakuran atas prestasi gemilang beliau yang meraih penghargaan dari Majlis Sastra Asia Tenggara (MASTERA) ke-10 dalam kategori buku non-fiksi. Penghargaan ini menjadi bukti bahwa khazanah intelektual di Timur Jawa memiliki daya saing di tingkat nasional dan internasional.

Rangkaian acara semakin hidup dengan pembacaan puisi yang menggugah. Enam penyair, yaitu Muhammad Lefand, Alif Raung Firdaus, Sami’an Adib, Bagus Barlean Aji, Fitri Nura Murti, dan Abbas dari Pattani, Thailand, membacakan karya-karya mereka. Kehadiran Abbas dari Pattani menandai dimensi internasional acara ini, memperkuat solidaritas budaya lintas batas negara.

Diskusi buku “Politika Sastra” karya Akhmad Taufiq dipandu oleh moderator Zahratul Umniyyah, M.Hum., Dosen FIB Universitas Jember. Dalam paparannya, kritikus sastra dan penerjemah Dwi Pranoto membuka wawasan dengan pernyataan provokatif, “Sastra itu sendiri sudah berpolitik di dalamnya.” Ia mengembangkan gagasan ini dengan menjelaskan bahwa dari sudut pandang ontologi, teks sastra tidak pernah lahir di ruang hampa. Setiap pilihan diksi, metafora, dan struktur narasi adalah manifestasi dari relasi kuasa dan posisi ideologis pengarangnya.

Dwi Pranoto juga menyoroti perdebatan klasik seputar konsep “kematian pengarang” yang dipopulerkan Roland Barthes. Ia berargumen bahwa meskipun teks dapat berdiri sendiri setelah diterbitkan, mengabaikan tanggung jawab sosial, etis, dan politik pengarang adalah sebuah kekeliruan. Dalam perspektif politik sastra, pengarang tetap memiliki agensi untuk memengaruhi kesadaran pembaca melalui karya yang mereka ciptakan.

Sementara itu, Prof. Akhmad Taufiq memberikan perspektif historis yang mendalam. “Narasi politik kebangsaan dapat dicermati pada novel Indonesia, misalnya karya Mangun Wijaya dan Marah Roesli,” ujarnya. Ia menjelaskan bahwa novel-novel tersebut bukan sekadar hiburan, melainkan arsip hidup yang merekam pergulatan identitas bangsa. Melalui karya-karya tersebut, sastra berfungsi sebagai medium untuk merumuskan dan mengkritisi imaji tentang Indonesia, menjadikannya alat strategis dalam konstruksi politik kebangsaan.

Acara yang dihadiri oleh sastrawan, perupa, pemerhati budaya dari Jember dan Bondowoso, serta mahasiswa dari Jember dan Pattani ini berjalan dengan dinamis. Program LèBUR #1 ini membuktikan bahwa KSTJ konsisten menjadi ruang subur bagi pertumbuhan intelektual, menegaskan bahwa di Timur Jawa, sastra dan politik adalah dua sisi mata uang yang tak terpisahkan dalam upaya memahami gerak zaman.

(Ful)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *