Jakarta – Pelita Jagat News. Selasa, 11 November 2025. Minggu pagi itu pada 28 September 2025, sebanyak 50 remaja berpeluh keringat di hamparan rumput hijau diiringi deru jalanan ibukota. Mereka adalah kumpulan pemain terbaik Liga Jakarta U-17 2025 yang mempertontonkan bakat mereka dalam ajang showcase “Perang Bintang” yang digelar di Lapangan Sintetis Pancoran Soccer Field, Jakarta Selatan.
Dalam pertandingan yang dibagi menjadi tiga game ini, Tim Putih pimpinan pelatih Maman Suryaman tampil dominan dengan mengalahkan Tim Merah (pelatih Tiastano Taufik) secara agregat, termasuk kemenangan telak 3-0 di game penentu.
Pertandingan yang dirancang khusus untuk mengekspos talenta terbaik anak-anak Jakarta dan sekitarnya ini menggunakan format unik. Game 1 dan 2 menampilkan dua set pemain berbeda, sementara Game 3 mempertemukan pemain terbaik dari dua game sebelumnya. Hasilnya, Tim Putih meraih kemenangan di semua sesi: 4-1 (Game 1), 3-2 (Game 2), dan 3-0 (Game 3), semuanya melalui adu penalti setelah bermain imbang selama 30 menit waktu normal.
Tajuk acara perang bintang ini tentu mengingatkan pemerhati bola nasional era 1990-an dimana pada awal awal bergulirnya Liga Indonesia -penyatuan Galatama dan Perserikatan (Liga Dunhill)-, publik bola Indonesia disuguhi tontonan menarik laga “Perang Bintang” antara tim Wilayah Barat melawan Wilayah Timur di jeda kompetisi. Acara kreatif yang diselenggarakan oleh PSSI yang saat itu terinspirasi dari laga perang bintang kompetisi bola basket Amerika Serikat NBA.

(Partai perang bintang Jakarta Merah vs Jakarta Putih)
Namun kali ini, perang bintang terjadi di kompetisi Liga Jakarta U-17. Kompetisi yang diikuti 18 tim berbasis klub dan SSB se Jakarta Raya dan sekitarnya. Para peserta seperti Pemuda Jaya, Urakan FC, Bintang Kranggan, UMS, Bina Mutiara dan Batavia FC adalah peserta yang juga klub anggota Asprov PSSI DKI Jakarta yang berlaga di Liga Nusantara (Liga-4) Nasional. Batavia FC musim ini bahkan berhasil promosi ke Liga-3. Sementara sisanya adalah SSB-SSB beken dan berprestasi di ibukota dan sekitarnya.
Asal muasal terselenggaranya Kompetisi yang bernama resmi LIGA JAKARTA U-17 PIALA GUBERNUR 2025 ini adalah keprihatinan para jurnalis senior sepakbola Jakarta terhadap pembinaan sepak bola Jakarta yang sejak 2019 “mati suri”. Juga minimnya perhatian dari stakeholder yang berakibat merosotnya pembinaan dan prestasi sepakbola usia muda berbagai jenjang di Jakarta. Kegagalan tim sepakbola putra DKI Jaya lolos ke PON 2021 dan 2024 adalah gambaran nyata. Padahal Jakarta sebagai ibukota adalah barometer utama sepakbola nasional. Namun kurangnya perhatian dan kompetensi dari stakeholder membuat semua potensi yang ada jadi sia-sia dan terabaikan. Selain itu, juga akibat Asprov PSSI DKI Jakarta yang sampai November 2024, belum dikukuhkan dan belum ada tanda-tanda untuk menggelar kongres guna menentukan pengurus baru Asprov PSSI DKI Jakarta.
Maka dari itu, kumpulan para wartawan senior dan penggiat sepak bola di Jakarta dan sekitarnya, berinisiatif untuk menggelar wadah kompetisi usia dini bertajuk Liga Jakarta U-17, memperebutkan Piala Gubernur 2025. Wadah kompetisi sepak bola yang membangun pembinaan berjenjang, untuk menunjang setiap bakat dan potensi pemain usia muda agar tetap dan makin terasah juga tak sia sia terabaikan.

(Bina Mutiara melawan Pemuda Jaya. Salah satu laga sengit Liga Jakarta U-17)
Salah satu yang mereka jadikan tonggak sebagai penyelenggara adalah berbasis dari pemikiran yang sudah dicetuskan pemerintah ketika menelorkan Inpres No III Tahun 2019, yaitu Percepatan Pembangunan Sepak Bola Nasional.
Dari hasil keputusan itu, pemerintah menginstruksikan transformasi sepak bola Indonesia. Salah satunya, mendorong kompetisi amatir yaitu, Liga 3, Liga 4, serta Kompetisi Antar-Sekolah yang bisa diselenggarakan oleh Pemerintah Daerah dengan aturan yang sedang dipersiapkan. Itu bentuk komitmen pemerintah memajukan sepak bola Indonesia melalui pembinaan atlet sejak usia dini. Dan otomatis, juga menjadi komitmen mereka sebagai penyelenggara.

(Tim Jakarta Putih dan Jakarta Merah dalam perang bintang Liga Jakarta U-17 2025)
Yosef Erwiyantoro, wartawan senior sepakbola Indonesia adalah “mastermind” event ini. Figurnya sudah tak asing lagi buat pemerhati sepakbola nasional. Sosok yang pernah bertugas meliput Euro 1988 di Jerman dan 1996 di Inggris juga Piala Dunia 1990 di Italia saat masih menjadi wartawan Suara Merdeka ini dikenal flamboyan, berani dan tidak biasa dalam sudut pandangnya terhadap sepakbola Indonesia. Pemikirannya out of the box dan idealis. Menurutnya, pagelaran yang bertajuk kompetisi Liga Jakarta U-17 ini digelar, untuk menjadi contoh pembinaan –youth development-, yang ditinggalkan organisasi PSSI. Sebelum menjadi CEO Liga Jakarta U-17 2025, Erwiyantoro tercatat sudah berulangkali berdedikasi untuk sepakbola Indonesia. Mulai ajang Copa Dji Sam Soe (Piala Indonesia), berbagai event Charity Match dan banyak lainnya.
Penyelenggaraan Kompetisi Liga Jakarta U-17 ini pun disambut antusias oleh para pembina sepakbola di Jakarta dan sekitarnya. kompetisi yang dimulai pada 4 Mei 2025 ini rencananya akan berakhir pada Nopember 2025 depan. Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung turun langsung membuka pagelaran ini. Pramono Anung mengaku menyambut kompetisi Liga Jakarta U-17 ini dengan antusias. Pramono ingin mengembalikan kembali kejayaan Jakarta sebagai barometer utama sepakbola nasional seperti dulu. Pramono bertekad untuk membawa Jakarta menjadi ibu kota sepak bola Indonesia. Maka dari itu, Liga Jakarta U-17 ini mengusung tagline: Jakarta Kota Bola!

(Yosef Erwiyantoro (kiri) CEO Liga Jakarta U-17 2025 bersama Yuswardi (kanan) salah satu pemain legendaris indonesia)
Satu hal yang patut digarisbawahi adalah sistem kompetisi penuh yang dipakai dalam Liga Jakarta U-17 ini. Format yang tepat yang mestinya jadi rolemodel stakeholder sepakbola Indonesia. Selama ini pagelaran event sepakbola usia dini di tanah air -bahkan yang resmi dibawah naungan PSSI sekalipun- hampir bisa dibilang semuanya berformat turnamen meski namanya dilabeli Liga atau Kompetisi. Sistem format yang tidak menempa para pemain dalam kompetisi yang sebenarnya. Pagelaran Liga Jakarta U-17 ini juga bisa jadi inspirasi kota-kota dan propinsi lain untuk berbuat hal serupa guna menggairahkan dan memajukan sepakbola jenjang usia di daerah masing-masing yang akan bermuara pada kemajuan pembinaan sepakbola usia dini di level lokal juga nasional dan akan berdampak pada prestasi ke level regional dan internasional.
Penyelenggaraan ajang Liga Jakarta U-17 Piala Gubernur 2025 oleh para jurnalis senior dan penggiat bola di ibukota ini kiranya bisa membuka mata publik bola Indonesia atas suatu keinginan dan tekad memajukan sepakbola Indonesia. Jika ada pihak yang harus membuka diri untuk belajar pada penyelenggaraan kompetisi Liga Jakarta U-17 ini, maka mereka yang merasa sebagai stakeholder sepakbola Indonesia yang patut belajar. Memburu prestasi jangan hanya mengandalkan naturalisasi. Tapi perhatikan kompetensi dalam pembinaan dan penyelenggaraan kompetisi usia dini. Sebab pembinaan sepakbola usia dini adalah sebuah pondasi. Pondasi untuk masa depan sepakbola Indonesia yang bermimpi berprestasi.
(AAF)





