MENENGOK MANAJEMEN KLUB PROFESIONAL INDONESIA

WhatsApp Image 2026 11 01 at 7.27.14 PM

Erwiyantoro (kanan) bersama Pieter Tanuri (kiri) pemilik klub Bali United

(Dari Mana Uang Mereka, Apa Mereka Bayar Pajak?)

Penulis jika lagi bengong, tiba-tiba saja kadang sering muncul pertanyaan yang rumit dan sulit dijawab. Salah satunya, seperti dalam judul artikel ini. Dari mana asal uang 18 klub anggota BRI Super League Indonesia, setiap musimnya? Sedangkan dari hasil Investigasi yang terkuak, nyaris semua klub, selalu tekor, tekor, nombok dan rugi melulu.

Dari catatan yang diperoleh penulis misalkan. Bali United musim 2026 – 27, diperkirakan harus menggelontorkan dana Rp 104.64 miliar. Dana sebesar itu, yang paling banyak untuk keperluan 11 pemain asing, sesuai dengan regulasi PT LIB musim ini, termasuk pelatih dan jajaran asistennya.

Ke-11 pemain asing tersebut iadalah Mike Hauptmeijer (Belanda), Thomas Lam (Finlandia), Joao Ferrari (Brasil), Thijmen Goppel (Belanda), Tim Receveeur (Perancis), Queven Inacia (Brasil), Teppei Yachida (Jepang), Brandon Wilson (Australia), Remco Balk (Belanda), Jort van der Sande (Belanda), Jay Herdman (Kanada, sekaligus anak kandung pelatih nasional Indonesia, John Herdman).

Menurut Transfermarkt, harga kontrak mereka untuk musim 2026 – 27, berkisar 3.43 juta Euro, atau sekitar Rp 59 miliar. Disebutkan nilai kontrak mereka, Remco Balk (650 ribu Euro), Tappei Yachida (600 ribu Euro), Thijmen Goppel (600 ribu Euro), Thomas Lam (300 ribu Euro), Queven (300 ribu Euro), Mike Hauptmeijer (275 ribu Euro), Brandon Wilson (250 ribu Euro), Joao Ferrari (200 ribu Euro), Jay Herdman (150 ribu Euro), dan Tim Receveur (100 ribu Euro). Hanya Jort van der Sande, yang tidak tertera dalam nilai kontrak.

Saat ini, jajaran kepelatihan Bali United, terdiri dari Johnny Jansen, didampingi I Gde Mahatman Dharma, Jeffrey Dennis Talan, Ronnie Pander dan Mohammad Rasyid. Hanya saja, menurut penulis, nilai kontrak mereka tidak dibuka di ranah publik. Hanya saja, untuk pelatih berlisensi UEFA Pro, bisa berkisar sekitar Rp 4 sampai 5 miliar per musim, hingga kontraknya selesai Desember 2027.

Kalau ditanya, apa saja yang wajib dianggarkan untuk memproduksi Bali United dalam satu musim. Misalkan untuk Kompetisi BRI Super League 2026 – 27 ini. Dari catatan penulis, yang harus dikeluarkan manajemen induknya Bali United, yaitu PT Bali Bintang Sejahtera Tbk (BOLA), berkisar antara Rp 183 miliar hingga Rp 200 miliar.

SATU – Untuk keperluan gaji pemain asing dan lokal juga pelatih asing dan local, yang dianggap musim ini sebagai skuad termewah, diperkirakan mencapai Rp 103 -107 miliar.

DUA – Biaya perjalanan dan logistik away, meliputi ongkos pesawat, akomodasi hotel, transportasi lokal, komsumsi seluruh rombongan Bali United, melakoni laga tandang ke 17 kota, sepanjang satu musim.

TIGA – Anggaran operasional untuk menjadi tuan rumah. Yakni biaya dan perawatan stadion Kapten I Wayan Dipta Gianyar, operasional panitia pertandingan, keamanan, steward, anggaran teknologi Video Assistant Referee (VAR).

EMPAT – Mempersiapkan pengembangan tim usia muda – Elite Pro Academy (EPA), jika untuk klub anggota kasta tertinggi, wajib memiliki EPA U-16, U-18 dan U-20. Musim ini akan berlangsung dengan pembagian empat grup, lewat sistem home and away. Dan, dilanjutkan ke putaran final.

LIMA – Ada budaya klub profesional, bahwa sistem bonus pertandingan, biasanya disepakati setiap pemain dan manajamen yang sebelum tanda tangan kontrak sudah dicanangkan. Misalkan, jika masuk lima besar, atau bisa juara, mendapatkan bonus dari CEO Bali United, Yabes Tanuri, adik kandung pemiliknya, Pieter Tanuri.

Lalu, berapa kira-kira Bali United mendapat income dari sponsorship mau pun partnership, untuk menutupi biaya produksi untuk satu musim 2026 – 27?

Ada catatan pemasukan Bali United, berdasarkan laporan keuangan dan keterangan manajemen PT Bali Bintang Sejahtera Tbk (BOLA). Bahwa, saat sepakbola dalam kondisi atmosfir yang sehat, seperti 2018 dan 2019, pemasukan bisa mencapai Rp 97 hingga Rp125 miliar. Artinya, setelah tahun 2019, wadah kompetisi dianggap tidak baik-baik saja. Apalagi, semenjak “Tragedi Kanjuruhan” 1 Oktober 2022 hingga sampai saat ini.

Ada 6 sponsorship dan partnership yang lumayan besar, dlantara 20 sponsor-partnership yang bekerja sama dengan Bali United. Yaitu, Adidas– apparel perlengkapan tim dari senior hingga tim EPA sampai tahun 2029. Indofood – sponsor pendukung klub. Mandiri Coal – sponsor pendukung skuad tim. Mandiri Tranship – sponsor pendukung klub. Prime Plaza Hotel and Suite, Sanur – mitra akomodasi perjalanan (travel and accommodation partner). Asvina – mitra akomodasi dan perjalanan partner.

Jika dibedah satu persatu, per item, penulis coba rangkum. Dari sektor makanan, keuangan dan energy, selain Indofood, ada Indomie, KB Bank dan Prima+. Sponsor yang terkait infrastruktur, komunikasi dan industry, ada CBN Fiber, Alderon, Riung, dan Regan Harney. Sedangkan, yang terkait sponsor kesehatan, akomodasi dan sosial, terdapat nama Salonpas dan YCAB (Yayasan Cinta Anak Bangsa), Mrime Plaza Hotel dan Asvinia.

September 2025 lalu, penulis pernah ngobrol dengan pemilik Bali United, Pieter Tanuri. Salah satu yang ditanya, tentang bisnis Bali United saat itu seperti apa? Jawabnya, “Waduh, semakin parah, dan nombok melulu,” jawabnya.

Padahal, sejak 17 Juni 2019, Bali United jadi satu-satunya klub di republik ini yang berani melantai ke Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan nama PT Bali Bintang Sejahtera Tbk. Lewat kode saham – BOLA. lewat saham perdana Rp 175 per lembar, serta mampu meraup dana segar sekitar Rp 350 miliar.

Namun, apalah arti dana segar sejak 2019, sebesar Rp 350 miliar, jika setiap musim harus mengeluarkan dana operasional untuk Bali United, setiap musimnya sebesar Rp 150 hingga Rp 200 miliar,dengan pendapatan yang berkisar Rp 100 miliar per musim?

Jawabannya ya tentu saja setiap musim selalu nombok.

Oleh : Erwiyantoro (Jurnalis senior dan pengamat sepakbola)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *