Jember – Pelita Jagat News, 12 Oktober 2026. Ancaman nyata mengintai para pengguna jalan yang melintasi jalur penghubung utama Jember-Banyuwangi. Retakan tanah jalan sepanjang kurang lebih 30 meter terdeteksi di kawasan Gunung Gumitir, Kecamatan Silo. Hal yang mengkhawatirkan, titik keretakan itu hanya berjarak dua hingga tiga meter dari bahu jalan, tepat di sisi jalan yang berbatasan langsung dengan jurang menganga.
Temuan mengkhawatirkan ini merupakan hasil investigasi mendalam tim gabungan yang turun ke lapangan pada Senin (5/10/2026) lalu. Guna mencegah bencana susulan, otoritas terkait langsung menggelar rapat koordinasi darurat di Aula Pusdalops BPBD Jember pada Kamis (8/10/2026).
Selain ancaman retakan, tim mendapati gerusan parah pada struktur bahu jalan yang berisiko ambrol sewaktu-waktu. Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jember, Edy Budi Susilo, menegaskan bahwa posisi retakan ini berada pada zona berisiko tinggi. Jika dibiarkan tanpa penanganan cepat, longsor susulan dapat menerjang kapan saja, terutama di tengah intensitas hujan yang mulai meningkat.
“Memang ditemukan retakan-retakan ringan, tetapi dampaknya cukup mengkhawatirkan karena hanya berjarak sekitar 2 sampai 3 meter di jalur sebelah kanan, yang mana sisi kanan ini langsung berpotensi jurang,” ujar Edy saat dikonfirmasi pada Senin (12/10/2026).
Sebagai langkah penanganan darurat, tim gabungan sepakat menutup celah tersebut pekan ini menggunakan metode sealing (penutupan celah), yang kemudian dilapisi aspal tipis. Langkah taktis ini krusial untuk mencegah air hujan meresap masuk dan memicu kerusakan struktur tanah dari dalam.
“Untuk retakan 30 meter itu, minggu ini kita selesaikan dengan sealing, kemudian ditutup dengan lapisan tipis pengaspalan di lokasi tersebut,” tegasnya.
Tak hanya fokus pada permukaan jalan, ancaman gerusan di bahu jalan juga diantisipasi secara intensif. Penyangga karung pasir (sandbag) yang sebelumnya dipasang oleh Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) Jawa Timur–Bali kini diperkuat kembali dengan balutan terpal kedap air hujan untuk membantu menjaga kestabilan tanah.
“Untuk sandbag akan disempurnakan dan ditambahi terpal, agar saat hujan turun, tanah tidak cepat longsor,” imbuhnya.
Di sisi lain, ancaman dari atas turut menjadi perhatian. Pohon-pohon beringin tua yang berdiri di sekitar titik rawan diputuskan untuk tidak ditebang, melainkan dipangkas ekstrem (dirempesi) guna mengurangi beban vegetasi tanpa merusak ekosistem kawasan.
“Disimpulkan dalam rapat hari ini, pohon beringin tersebut tidak dipotong, tetapi hanya dirempesi dan dikurangi bebannya agar tidak berat,” jelas Edy. (Dang)





