SUKABUMI — Pelita Jagat News. Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Lapang Korpri, Kecamatan Cisaat, Kabupaten Sukabumi, menjadi momentum untuk menegaskan kembali pentingnya semangat perjuangan kemerdekaan dalam menghadapi persoalan pembangunan saat ini.
Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat dari Fraksi PDI Perjuangan, H. Muhammad Jaenudin, S.Ag., M.H., turut hadir dalam upacara tersebut dan dipercaya membacakan teks Proklamasi Kemerdekaan.
HM.Jaenudin menilai, peringatan kemerdekaan tidak boleh berhenti pada seremoni tahunan. Semangat perjuangan para pendiri bangsa, menurutnya, harus diterjemahkan ke dalam kerja nyata untuk memperbaiki kesejahteraan masyarakat, khususnya melalui penguatan ekonomi rakyat, pembangunan infrastruktur, pendidikan, dan kesehatan.
“Proklamasi yang tadi dibacakan mengingatkan kita pada perjuangan Bung Karno, Bung Hatta dan seluruh pahlawan bangsa. Kita sebagai masyarakat harus mewarisi api perjuangannya,” ujar Jaenudin.
Menurut dia, tantangan pembangunan saat ini memang berbeda dengan masa perjuangan merebut kemerdekaan. Jika dahulu bangsa Indonesia berjuang melawan penjajahan, kini perjuangan tersebut harus diwujudkan dalam upaya mengatasi persoalan ekonomi, pengangguran, kesenjangan pembangunan, pendidikan dan akses pelayanan dasar.
Dorong Pemerintah Fokus pada Ekonomi Rakyat
HM.Jaenudin menekankan pentingnya keselarasan program pembangunan antara pemerintah pusat, Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan pemerintah kabupaten/kota.
Menurutnya, kebijakan pembangunan harus memiliki orientasi yang jelas terhadap peningkatan ekonomi masyarakat di seluruh lapisan.
“Bagaimana perbaikan ekonomi rakyat yang ada di semua lapisan. Kepada masyarakat, ayo bersama pemerintah berikhtiar melakukan perbaikan ekonomi, kemudian infrastruktur, terutama di Jawa Barat,” katanya.
Ia juga menyoroti besarnya anggaran daerah yang harus diarahkan secara efektif untuk menjawab kebutuhan masyarakat. Menurut HM.Jaenudin, pembangunan infrastruktur, pendidikan dan kesehatan harus benar-benar memberikan dampak yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.

Di sektor kesehatan, ia mengingatkan pentingnya memastikan masyarakat memperoleh akses pelayanan melalui skema jaminan kesehatan, baik BPJS maupun skema perlindungan kesehatan lainnya.
Pemerintah, kata dia, juga perlu aktif turun ke lapangan agar masyarakat memahami berbagai program dan kebijakan yang telah disiapkan pemerintah pusat maupun daerah.
“Pemerintah pusat, provinsi dan kabupaten harus bersama-sama melihat kondisi masyarakat dan turun ke bawah, memberikan informasi serta memastikan program pemerintah benar-benar sampai kepada masyarakat,” ujarnya.
HM.Jaenudin Soroti Lulusan SMK dan Ketidaksesuaian dengan Kebutuhan Industri
Salah satu perhatian serius Jaenudin adalah persoalan lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang belum sepenuhnya terserap dunia kerja.
Ia mendorong agar kurikulum SMK dievaluasi secara berkala dan disesuaikan dengan perkembangan kebutuhan pasar kerja.
Menurutnya, jangan sampai pendidikan kejuruan mengajarkan keterampilan yang sudah tertinggal dibandingkan perkembangan teknologi industri.
Ia mencontohkan sektor otomotif. Perkembangan kendaraan listrik, baik sepeda motor maupun mobil, membutuhkan tenaga kerja dengan kompetensi baru. Karena itu, pendidikan kejuruan harus mampu mengikuti perubahan teknologi tersebut.
“Jangan sampai bengkel mobil dan motor masih menggunakan metode-metode lama, sementara pasar sudah meminta motor listrik dan mobil listrik,” tegasnya.
HM. Jaenudin menilai persoalan pengangguran tidak cukup diselesaikan hanya dengan memperbanyak lapangan kerja formal. Pemerintah juga harus membangun ekosistem kewirausahaan agar lulusan sekolah memiliki pilihan untuk menciptakan lapangan pekerjaan.
Ia mengingatkan bahwa ketidaksesuaian antara jurusan yang dipelajari dengan kebutuhan industri menjadi salah satu faktor yang perlu dievaluasi bersama.
“Kalau jurusannya ada, tetapi di pasar belum banyak diminta sektor usaha dan industri, pemerintah harus hadir. Ketika pengangguran dari sektor industri tinggi, harus didorong juga bagaimana wirausaha masyarakat meningkat,” katanya.
Pernyataan tersebut sekaligus menjadi catatan bahwa keberhasilan pendidikan kejuruan tidak semata-mata diukur dari jumlah lulusan, tetapi juga dari kemampuan lulusan memasuki dunia kerja, menciptakan usaha, serta beradaptasi dengan perubahan teknologi.
Camat Cisaat Kemerdekaan Harus Dilanjutkan dengan Pembangunan
Sementara itu, Camat Cisaat Hj. Ratu Badrijawati, S.IP., M.Si., menyampaikan apresiasi kepada unsur Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam), para kepala desa, UPTD pendidikan, guru, kepala sekolah dan seluruh undangan yang hadir dalam upacara tersebut.
Ratu menegaskan bahwa kemerdekaan Indonesia diperoleh melalui pengorbanan besar para pahlawan yang mempertaruhkan jiwa dan raga.

Karena itu, generasi saat ini memiliki tanggung jawab untuk meneruskan cita-cita para pendahulu melalui pembangunan.
“Perjuangan dalam membela tumpah darah Indonesia sudah dilakukan demi merebut kemerdekaan Indonesia. Kita harus meneruskan cita-cita pendahulu dengan membangun kembali peradaban, infrastruktur, memperbaiki ekonomi, sumber daya manusia yang handal, pendidikan, agama dan budaya,” ungkapnya.
Ratu juga memperkenalkan dirinya sebagai Camat Cisaat yang baru menjalankan tugas selama lima hari kalender. Sebelumnya, ia bertugas di Kecamatan Sukalarang.
Ia berharap dukungan dan kerja sama seluruh unsur masyarakat dapat menjadi modal penting dalam menjalankan roda pemerintahan dan pembangunan di Kecamatan Cisaat.
“Saya berharap dukungan semua pihak dan saling kerja sama demi memajukan Kecamatan Cisaat yang kita cintai ini,” ujarnya.
Kemerdekaan Bukan Sekadar Upacara
Peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Cisaat akhirnya bukan sekadar agenda seremonial. Pesan yang muncul justru menyentuh persoalan pembangunan yang masih menjadi pekerjaan rumah bersama.
Apa yang disampaikan Jaenudin memperlihatkan bahwa semangat kemerdekaan perlu diterjemahkan dalam agenda yang lebih konkret ekonomi rakyat yang kuat, infrastruktur yang merata, pelayanan kesehatan yang mudah diakses serta pendidikan kejuruan yang mampu menjawab kebutuhan industri dan perkembangan teknologi.
Di tengah perubahan ekonomi dan teknologi yang semakin cepat, pembangunan manusia menjadi kunci. Semangat kemerdekaan yang diwariskan para pahlawan akan kehilangan makna apabila generasi penerus masih dihadapkan pada kesenjangan kesempatan kerja, ketidaksesuaian kompetensi dan lemahnya akses terhadap pelayanan dasar.
Karena itu, momentum HUT RI ke-81 di Cisaat menjadi pengingat bahwa perjuangan setelah kemerdekaan belum selesai. Api perjuangan yang diwariskan para pendiri bangsa harus diterjemahkan menjadi keberanian untuk melakukan evaluasi, memperbaiki kebijakan dan memastikan pembangunan benar-benar berpihak kepada masyarakat.
Sukma





